Tuesday, July 3, 2012

VAKSIN



Vaksin:
Adalah bahan antigenik yang digunakan untuk menghasilkan kekebalan aktif terhadap suatu penyakit sehingga dapat mencegah atau mengurangi pengaruh infeksi oleh organisme alami atau "liar".
Vaksin dapat berupa galur  virus atau bakteri  yang telah dilemahkan sehingga tidak menimbulkan penyakit. Vaksin dapat juga berupa organisme mati atau hasil-hasil pemurniannya (protein, peptida, partikel serupa virus, dsb.). Vaksin akan mempersiapkan sistem kekebalan manusia atau hewan untuk bertahan terhadap serangan patogen tertentu, terutama bakteri, virus, atau toksin. Vaksin juga bisa membantu sistem kekebalan untuk melawan sel-sel degeneratif (kanker).

Menumbuhkan kekebalan
Sistem kekebalan mengenali partikel vaksin sebagai agen asing, menghancur-kannya, dan "mengingat"-nya.
Ketika di kemudian hari agen tsb menginfeksi tubuh, sistem kekebalan telah siap:
Menetralkan bahannya sebelum bisa memasuki sel; dan
Mengenali dan menghancurkan sel yang telah terinfeksi sebelum agen ini dapat berbiak.
Vaksin yang dilemahkan digunakan untuk melawan tuberkulosis, rabies, dan cacar; agen yang telah mati digunakan untuk mengatasi kolera dan tifus; toksoid digunakan untuk melawan difteri dan tetanus.

Vaksin sejauh ini  bisa menimbulkan efek samping yang merugikan, dan harus diperkuat dengan vaksinasi ulang beberapa tiap tahun. Suatu cara untuk mengatasi hal ini adalah dengan vaksinasi DNA.
DNA yang menyandi suatu bagian virus atau bakteri yang dapat dikenali oleh sistem kekebalan dimasukkan dan diekspresikan dalam sel manusia/hewan. Sel-sel ini selanjutnya menghasilkan toksoid agen penginfeksi, tanpa pengaruh berbahaya lainnya. Pada tahun 2003, vaksinasi DNA masih dalam percobaan, namun menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Imunisasi di Indonesia dimulai tahun 1858 dengan pelaksanaan imunisasi cacar di Pulau Jawa. Kegiatan ini telah berhasil membasmi penyakit cacar di Indonesia, hingga tahun 1974 Indonesia dinyatakan bebas cacar oleh WHO. Sedangkan program Imunisasi secara resmi dimulai pada tahun 1977.
Program Pengembangan Imunisasi (PPI) mencakup  penyakit utama, yaitu : vaksin BCG, DPT, Polio, Campak dan Hepatitis B harus menjadi perhatian dan kewajiban orang tua untuk memberikan kesempatan kepada untuk mendapatkan imunisasi yang lengkap, sehingga sasaran pemerintah agar setiap anak mendapat imunisasi dasar terhadap 7 penyakit utama dapat dicegah.
Imunisasi polio diberikan untuk memberantas penyakit polio yang didapat dengan gejala adanya kelumpuhan mendadak. Karenanya, pemerintah Indonesia mengadakan program PIN (Pekan lmunisasi Nasional) yang diselenggarakan setiap 5 tahun sekali.

Tiap tahunnya 2-3 kali penyelenggaraan. Hal ini menandakan adanya keseriusan pemerintah Indonesia untuk memberantas penyakit polio dan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang sehat sesuai Program Pemerintah Indonesia sehat di tahun 2010.


                                     Konsep Dasar Imunisasi
Pengertian:
Imunisasi adalah suatu cara untuk meningkatkan kekebalan  seseorang  
secara aktif terhadap suatu antigen, sehingga bila ia terpajan pada antigen
yang serupa, tidak terjadi penyakit.
• Imunisasi adalah pengumuman, pengobatan terhadap  penyakit. (Kamus Besar
Bahasa Indonesia)

Tujuan Imunisasi
Untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu pada seseorang dan menghilang-kan penyakit tertentu pada sekelompok masyarakat (populasi) atau bahkan menghilangkan penyakit tertentu dan dunia seperti pada imunisasi cacar.

Macam Kekebalan
Dilihat dari cara timbulnya maka terdapat 2 jenis kekebalan, yaitu
1. Kekebatan pasif
   
Adalah kekebalan yang diperoleh dari luar tubuh bukan dibuat oleh individu
    itu sendiri. Kekebalan pasif tidak berlangsung lama karena akan di
    metabolisme oleh tubuh
2. Kekebalan aktif
    
Adalah kekebalan yang dibuat oleh tubuh sendiri akibat terpajan pada
     antigen seperti pada manusia atau terpajan secara alamiah. Kekebalan aktif
     biasanya berlangsung lebih lama karena adanya memori imunologi.


Jenis Vaksin :
1. Vaksin hidup
    Berasal dari bakteri atau virus hidup yang dilemahkan. Bersifat labil dan dapat
    mengalami kerusakan bila kena panas dan sinar.
    Vaksin hidup yang tersedia saat ini.
    - Dari virus hidup : campak, gondongan, polio, 
                                  rotavirus,  demam kuning.
    - Vaksin dari hakteri : BCG, demam tipoid oral.
2. Vaksin Inaktivated
    Berasal dari bakteri, virus atau komponennya yang dibuat tidak aktif.
Vaksin   
    inactive selalu membutuhkan dosis ganda. Pada umumnya dosis pertama
    tidak menghasilkan imunisasi perspektif, tetapi hanya memacu atau
    menyimpan sistem imun. Respon imun protektif baru timbul setelah dosis
    kedua / ketiga

Vaksin inactived yang tersedia saat ini berasal dari:
v  Seluruh sel virus inactived, contoh : influenza, rabies, hepatitis A.
v  Seluruh sel bakteri inactived, contoh : pertusil, tifoid,  kolera.
v  Vaksin fraksional yang masuk sub unit contoh hepatitis B,  influenza, pertusis, aseiuler, tifoid VI, lyme disease.
v  Toksoid contoh difetria, tetanus, botalimum.
v  Polisakarida murni contoh pnemokokus, meningokokus dan kaemophilis.
v  Influenza tipe B.
v  Gabungan polisakarida (haemophilish influenza tipe B dan C pnaemokokus).




Faktor yang Mempengaruhi Kualitas dan Kuantitas Vaksin :
o  Cara pemberian vaksin.
o  Frekuensi pemberian.
o  Jenis vaksin.

Bahan-bahan Untuk Membuat Vaksin :
o  Dari bibit penyakit yang sudah dimatikan.
o  Dari bibit penyakit yang hidup yang sudah dilemahkan.
Ada yang dibuat dari racun yang dihasilkan oleh bakteri,  kemudian diubah
    menjadi toxoid sehingga tidak berbahaya bagi anak.
Ada yang dibuat dari hasil bioteknologi rekayasa genetika.


                           DASAR PERTAHANAN TUBUH
Untuk melawan zat yang secara potensial merusak  ataupun untuk melawan mikroorganisme, tubuh dilengkapi dengan mekanisme pertahanan spesifik dan non spesifik, yaitu :

Mekanisme non spesifik, suatu zat asing dapat dibuat tak merusak walaupun tanpa kontak sebelumnya.
Mekanisme spesifik, sebelumnya harus ada kontak pertama yang menyebab-kan terbentuknya antibodi.

Antigen:
benda asing bagi organisme yang menimbulkan proses perlawanan imunologik dalam darah dan jaringan. Antigen ini akan membentuk ikatan reversibel dengan antibodi khusus yang terbentuk untuknya.

Antibodi:
terbentuk setelah antigen berkontak dengan sel yang mempunyai kemampuan imunologik. Biasanya komplementer terhadap antigen dan spesifik.

Pembentukan antibodi:
antibodi dibentuk oleh sel plasma, yang terbentuk setelah kontak antigen dan berasal dari b-limfosit yang mengalami proliferasi dan diferensiasi.
Pada pertemuan pertama  b-limfosit dengan antigen, di samping terbentuk sel plasma (sel efektor) terbentuk juga apa yang disebut sel memori, yang juga bersirkulasi dalam darah. Pada kontak berikutnya dengan antigen, sel memori ini akan dapat mengenali antigen itu.

Jenis antibodi:
Imunoglobulin G (IgG),
dalam plasma manusia kadar IgG lebih tinggi daripada kadar imunglobulin lainnya. Satu-satunya imunglobulin yg dapat melewati membran,maka dpt masuk ke sirkulasi bayi yg dikandung. Dg demikian akan memberikan perlindungan pada bayi pada bulan-bulan pertama kelahirannya.
Imunglobulin M (IgM),
merupakan antibodi yg terbesar dan pada imunisasi pertama hampir selalu terbentuk pertama kali. Tapi kadarnya segera turun lagi dengan cepat. IgM jauh lebih berkhasiat daripada IgG.
Imunglobulin A (IgA),
mengkhususkan diri pada proses pertahanan permukaan mukosa tubuh. Fungsinya adalah untuk mencegah penimbunan dan masuknya penyebab penyakit serta zat antigen lain ke dalam selaput lendir.
    Merupakan satu-satunya antibodi yang dapat diekskresi
Imunglobulin D dan E belum banyak diketahui.



IMUNISASI  AKTIF
Pada imunisasi pertahanan aktif, antigen yang ada dalam vaksin akan menyebabkan pembentukan antibodi, yang menyebabkan organisme bersangkutan mempunyai imunitas spesifik terhadap antigen ini.

Pertahanan yang didapat dengan cara ini akan tetap ada beberapa tahun bahkan dapat sampai seumur hidup.

Syarat tercapainya imunisasi aktif yg bermanfaat :
          Vaksin tsb mengandung cukup antigen
          kondisi umum penerima vaksin baik/tidak terganggu

Jenis vaksin:
Menurut jenis antigen yang digunakan dibedakan atas:
         Vaksin dengan kuman apatogen atau avirulen yang masih dapat berkembang biak (vaksin hidup)
         Vaksin dengan kuman yang tak mampu berkembang biak, artinya kuman yang telah dimatikan atau (pada virus) yang sudah diinaktifkan (vaksin mati)
         Vaksin toksoid dengan toksin yang sudah dilemahkan.

Vaksin hidup adalah:
         Vaksin demam kuning
         Vaksin campak
         Vaksin parotitis
         Vaksin poliomielitis menurut cara Sabin
         Vaksin rubeola
         Vaksin BCG (=Bacillus Calmette Guerin)
Vaksin  mati  adalah:
         Vaksin poliomielitis menurut cara Salk
         Vaksin meningoensefalitis musim panas awal
         Vaksin influenza, rabies, pertusis, tifus dan kolera

Vaksin Toksoid adalah:
         Vaksin difteri dan tetanus



Pembagian lain:
         Vaksin Cair : tidak mengandung bahan tambahan lain.
         Vaksin adsorbat:  antigen diadsorpsikan pada zat adsorben misalnya aluminium hidroksida. Dengan pembebasan antigen yang diperlambat maka pembentukan antibodi akan diperkuat.


                                           JADWAL  VAKSINASI


Usia
Vaksinasi
Bayi  baru  lahir

3 Bulan

15 bulan
2 Tahun

6-10 tahun
Vaksinasi anti tbc (pada bahaya penularan yang meningkat)
Imunasi dasar terhadap difteri, tetanus, poliomielitis, fakultatif terhadap pertusis
Vaksinasi tampek-gondong dan rubeola
Vaksinasi DT (difteri,tetanus), vaksinasi polio secara oral
Vaksinasi penyegaran DT (mulai usia 10 tahun vaksin Ta , artinya dengan kandungan Di-Toksoid yg lebih rendah), vaksinasi oral polio; vaksinasi profilaktik tuberkulosis pada orang yang test tuberkulinnya negative
11-14 tahun



Vaksinasi penyegaran yang dilaksanakan dengan rutin
Vaksinasi rubeola untuk semua anak perempuan (juga jika divaksinasi pada usia anak-anak)
Tetanus tiap 10 tahun

Vaksinasi oral polio tiap       5-10 tahun
VAKSINASI  BCG
Untuk perlindungan terhadap tuberkulosis, bayi yang baru lahir yang bahaya ditularinya sangat tinggi, divaksinasi segera setelah kelahiran dengan bakteri tuberkulosis apatogen Typus bovinum (vaksinasi BCG).
Reaksi vaksinansi umum jarang terjadi.
Pada tempat penyuntikan setelah beberapa minggu akan timbul benjolan kecil yang kemudian tak nampak lagi.
Setelah vaksinasi BCG, vaksinasi berikutnya dilakukan dalam jarak 4 minggu


VAKSINASI DIFTERI
Untuk imunisasi aktif terhadap difteri digunakan difteri-formol-toksoid yang diabsorpsikan pada alumunium hidroksida.
Vaksin ini mempunyai derajat kemurnian yang tinggi dan mengandung kadar antigen yang tinggi.
Imunisasi dasar dilakukan dengan penyuntikan 3 kali 0,5 ml vaksin (vaksin adsorbat difteri AI.F.T. Behringwerke)
Reaksi imunisasi jarang terjadi.
Kadang-kadang pada tempat penyuntikan terjadi pemerahan, udem dan rasa ditekan, disertai demam ringan dan sakit kepala



VAKSINASI  TETANUS
Tetanus ditimbulkan oleh toksin Clostridium tetani, suatu bakteri anaerob yang membentuk spora.
Penyakit ini ditandai dengan kejang tonik otot skelet.
Bahaya infeksi tetanus universal.  Vaksin ini diperlakukan seperti vaksin difteri  yaitu dengan formaldehida dan mengandung toksin tetanus (tetanus formoltoksoid) yang terikat pada alumunium hidroksida.
Imunisasi dasar: disuntikkan 2 kali 0,5 ml IM dengan jarak 4-8 minggu.
Suntikan ketiga  dilakukan setelah 6-12 bulan.
Vaksinasi penyegar dilakukan selang waktu 10 tahun, akan tetapi pada luka harus dilakukan 5 tahun setelah vaksinasi terakhir.
Reaksi akibat vaksinasi jarang terjadi.


VAKSINASI HEPATITIS B
Untuk imunisasi aktif terhadap hepatitis B dibuat sebuah vaksin yang mengandung antigen permukaan virus hepatitis B.
Vaksinasi ini diindikasikan bagi semua orang yang mempunyai risiko tinggi  terkena  hepatitis B.
Untuk imunisasi dasar disuntikkan 1 ml vaksin IM selang waktu 4 minggu, suntikan booster diberikan 6 bulan setelah suntikan pertama.
Efek samping yang dapat terjadi adalah :
          reaksi lokal,
          kadang-kadang demam,
          keluhan pada otot dan sendi
          nausea dan muntah


VAKSINASI TERHADAP MENINGOENSEFALITIS AWAL MUSIM PANAS
Penyakit ini merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus  yang terutama dihantarkan oleh tungau penghisap darah (Ixodes ricinus) dan terdapat endemik terutama di Jerman selatan dan Austria.


VAKSINASI POLIOMIELITIS
Kelumpuhan pada anak-anak disebabkan oleh 3 jenis virus
poliomielitis yang berbeda.
         Vaksin Salk mengandung ketiga jenis virus yang diinaktifkan. Disuntikkan dua kali dengan jarak 1 bulan. Suntikan berikutnya diberikan setelah satu tahun. Jarang terjadi reaksi setelah imunisasi.
         Vaksin hidup, dapat diberikan secara oral (vaksin telan).
Titer antibodi akan bertahan lebih lama  dari vaksin Salk. Dapat terjadi reaksi setelah imunisasi: sakit kepala, nyeri otot dan demam, diare.


VAKSINASI  CAMPAK
Campak terjadi setelah infeksi virus campak.
Vaksin virus campak disuntikkan sekali 0,5 ml SC.
Komplikasi akibat vaksinasi jarang terjadi.

VAKSINASI  PAROTITIS
Dilakukan karena adanya komplikasi yang agak sering terjadi (meningitis, pankreatitis, orkhitis) setelah infeksi dengan virus parotitis ini.
Disuntikkan satu kali 0,5 ml vaksin secara SC.
Setelah vaksinasi dapat terjadi demam singkat, umumnya pada minggu kedua. Kadang-kadang terjadi reaksi alergi.

VAKSINASI  CAMPAK  JERMAN
Penyakit yang  disebabkan oleh virus rubella  ini, pada anak-anak dan orang dewasa umumnya tidak berbahaya.
Jika seorang wanita pada awal kehamilannya  pada bulan-bulan pertama menderita rubella, maka pada embrio akan ada bahaya embriopati dengan ketulian pada telinga dalam, gangguan penglihatan, kelainan jantung.
Vaksin yang digunakan yaitu virus yang dilemahkan (Rubella-HDC vaccine Wellcome)
Reaksi  setelah vaksinasi jarang.

VAKSINASI INFLUENZA
Syarat tercapainya vaksinasi yang berhasil terhadap influenza dengan virus influenza yang diinaktifkan adalah penyesuaian vaksin pada penyebabnya. (dalam vaksin harus terkandung antigen khusus bersangkutan)
Imunisasi dilakukan dengan suntikan satukali 0,5 ml IM.
Vaksinasi penyegaran: setahun sekali.
Reaksi lokal: pemerahan, udem
Reaksi umum : sakit kepala, demam
Biasanya reaksi-reaksi ini akan segera hilang

VAKSINASI  CACAR
Vaksinasi perlindungan terhadap cacar yang dulu diharuskan sesuai dengan peraturan, saat ini tidak dilaksanakan lagi karena dg usaha-usaha vaksinasi di seluruh dunia tdk timbul serangan lagi.


VAKSINASI  RABIES
Rabies disebabkan oleh virus RNA yang bersifat neurotropik, peka terhadap cahaya dan panas, tetapi tahan terhadap dingin dan pembusukan
Penularan terhadap manusia umumnya terjadi melalui gigitan atau cakaran.
Vaksinasi dilakukan dengan virus rabies yang dibiakkan pada sel diploid manusia dan diinaktifkan dengan  b-propiolakton (Vaksin HDC= human diploid cells).
Untuk pencegahan, disuntikkan 2 sampai 3 kali 1 ml vaksin.
Setelah terinfeksi pada orang yang tidak menjalani imunisasi dasar: diberikan total 6 kali  suntikan (segera setelah infeksi serta setelah 3,7,14,30 dan 90 hari)
Pada tempat penyuntikan dapat timbul rasa nyeri ringan, pemerahan dan indurasi.



IMUNISASI  PASIF
(PROFILAKSIS SERUM)  DAN  TERAPI  SERUM

Pada imunisasi pasif, antibodi yang sudah terbentuk dalam tubuh hewan atau manusia akan disuntikkan pada pasien.
Serum adalah preparat antibodi yang diperoleh dari hewan yang diimunisasi atau yang berasal dari  darah manusia.
Yang berasal dari darah manusia disebut preparat imunglobulin.
Keuntungannya yang diperoleh dari hewan ialah pemasukan yang segera, Kerugiannya : pertahanan  hanya  berlangsung singkat, pada serum hewan hanya 8-14 hari, pada imunglobulin beberapa minggu. Pada penggunaan serum hewan jumlah komplikasi tinggi.



Indikasi  Imunisasi  Pasif:
Jika ada kemungkinan terjadinya infeksi tetanus atau rabies.
Penanganan hanya bermanfaat jika perbanyakan kuman yang intensif terutama virus atau ikatan toksin pada struktur tubuh sendiri belum terjadi.

SERUM HEWAN:
Untuk mendapatkan serum: antigen disuntikkan kepada kuda, sapi atau hewan percobaan lain dengan lama tertentu sampai didapat titer antibodi yang tinggi. Setelah itu darah diambil dan dikerjakan, dan serum yang diperoleh disebut serum asli.
Saat ini serum asli jarang digunakan lagi karena bahaya reaksi yg timbul terlalu besar ( demam, udem, pembengkakan pada nodus limfe, syok anafilaktik).


SERUM FERMO ( Serum yang dimurnikan secara fermentatif)
Serum ini akan sangat mengurangi bahaya sensibilisasi, akan tetapi tetap spesifik. Karena itu uji reaksi atau anafilaktik tetap harus dilakukan sebelum penggunaan sebagaimana biasa.
Serum hewan yang saat ini ada dalam perdagangan umumnya berasal dari kuda.


IMUNSUPRESIVA
Adalah senyawa yang mempunyai kemampuan menekan reaksi imun.
Ada keadaan tertentu dimana penekanan pada peristiwa imunologik dibenarkan atau bahkan harus dilakukan. Yaitu pada:
          Transplantasi organ
          Penyakit Autoimun

Reaksi imunologik hanya bermanfaat jika sistem imunologik antara tubuh sendiri dan komponen asing dapat dibedakan. Kemampuan untuk membedakan itu didapat pada akhir kehamilan dan bulan-bulan pertama kelahiran. Fungsi ini dapat terganggu. Suatu organisme dapat membentuk antibodi terhadap zat tubuhnya sendiri. Penyakit ini dinamakan penyakit Autoimun atau autoagresi.
Untuk melawan penyakit ini, dapat dilakukan dg Imunsupresiva.

Imunsupresiva yang dikenal saat ini yaitu:
          Glukokortikoid
          Sitostatika
          Sikloporin
          Globulin antilimfosit

OBAT ANTIANEMIA


                                              
ANEMIA
Adalah berkurangnya  jumlah eritrosit dalam darah atau kadar  hemoglobin yang kurang dari normal.

n  Di Negara Berkembang, anemia merupakan keadaan yang membahaya-kan ibu hamil. Wanita dewasa mempunyai kandungan zat besi sebesar 3500 – 4500 mg. 75% berada dalam eritrosit sebagai hemoglobin. 20% berada dalam tempat penyimpanan terutama dalam sumsum tulang dan RES (reticulo endohelial system) sebagai kompleks ferritin. 5% berada dalam otot.
n  Setiap hari seorang akan kehilangan 1 mg zat besi melalui lapisan epitel yang mati ; Pada wanita dewasa, melalui darah haid pasien akan kehilangan zat besi sekitar 1 mg perhari. Jadi kebutuhan seorang wanita tidak hamil untuk mempertahankan keseimbangan zat besi adalah 2 mg perhari. Makanan sehari-hari kira-kira mengandung 15 – 20 mg zat besi dan hanya 14 – 20% yang dapat diabsorbsi.
n  Usia eritrosit ± 120 hari dan setiap hari terdapat eritrosit yang mati dan mengeluarkan kandungan zat besinya yang diperlukan dalam proses pembentukan eritrosit baru.
n  Seseorang baik pria maupun wanita dinyatakan menderita anemia apabila kadar Hemoglobin dalam darahnya kurang dari 12g/100ml. Anemia lebih sering dijumpai dalam kehamilan.



ANEMIA DALAM KEHAMILAN

Anemia lebih sering dijumpai dalam kehamilan. Hal ini disebabkan karena dalam kehamilan keperluan zat – zat makanan bertambah dan terjadi pula perubahan dalam darah dan sumsum tulang. Darah bertambah banyak dalam kehamilan disebut hidremia atau hipervolemia. Akan tetapi, bertambahnya sel-sel darah kurang dibandingkan dengan bertambahnya plasma, sehingga terjadi peng-enceran darah.
Anemia dalam kehamilan sering terjadi terutama bila jarak antar kehamilan pendek. Anemia dalam kehamilan menyebabkan: resiko infeksi dan perdarahan pasca persalinan.

Faktor nutrisi utama yang terkait : Zat Besi Asam Folat     
                                                       Vitamin B

Penyebab:
n   Kurang gizi
n   Kurang zat besi dlm diet
n   Malabsorpsi
n   Penyakit – penyakit kronik

Gejala:
n  Takikardia
n  Gejala Rasa lesu bagi sebagian besar wanita hamil   dianggap biasa maka gejala yang terkait dengan anemia  dalam kehamilan jarang muncul
n  Vasodilatasi perifer selama kehamilan menyebabkan  wanita hamil yang menderita anemia tidak nampak pucat.
n  Pemeriksaan kadar hemoglobin secara teratur pada  wanita hamil menu-runkan angka kejadian wanita hamil  inpartus yang mengalami anemia.
Pengaruh anemia dalam kehamilan:
Anemia dalam kehamilan memberi pengaruh kurang baik bagi ibu baik dalam kehamilan, persalinan maupun dalam masa nifas dan masa selanjutnya.


Berbagai penyulit dapat timbul akibat anemia seperti :
* Abortus
* Partus prematur
* Perdarahan postpartum
* Syok
* Infeksi baik intrapartum maupun postpartum


Pembagian anemia dalam kehamilan :

n   Anemia defisiensi besi
n   Anemia megaloblastik
n   Anemia hipoplastik
n   Anemia hemolitik



Anemia Defisiensi Besi

n  Merupakan anemia yang paling sering ditemukan. Dapat disebabkan karena kurang asupan besi dalam makanan, gangguan resorpsi, gangguan penggunaan, atau karena pengeluaran besi terlalu banyak dari tubuh misalnya pada perdarahan. Jika terjadi defisiensi besi, maka suplai ke sumsum tulang juga berkurang sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan basal produksi Hb. Hal ini menyebabkan setiap sel darah merah yang terbentuk mengandung sedikit Hb.

n  Kehamilan adalah situasi dimana kebutuhan zat besi meningkat dan diperkirakan selama 40 minggu kehamilan kebutuhan zat besi wanita hamil adalah 750 mg yang terdiri dari : 425 mg untuk ibu 300 mg untuk janin 25 mg untuk plasenta Sepanjang masa kehamilan, kebutuhan zat besi tidak selalu sama dan hal itu mempengaruhi derajat absorbsi zat besi oleh tubuh wanita hamil. Pada minggu ke 30, absorbsi sekitar 30% asupan zat besi yang ada ; pada minggu ke 36 , absorbsi sekitar 66% asupan zat besi yang ada ( 9 kali lipat aborbsi pada minggu ke 16 )

n  Keperluan besi bertambah dalam kehamilan terutama dalam trimester terakhir. Apabila masuknya besi tidak ditambah dalam kehamilan maka mudah terjadi defisiensi besi, lebih-lebih pada kehamilan kembar. Lagi pula di daerah khatulistiwa besi lebih banyak ke luar melalui air peluh dan kulit. Di Indonesia asupan besi per hari untuk wanita tidak hamil (12 mg), wanita hamil (17 mg), wanita menyusui (17 mg).

n  Perubahan adaptatif selama kehamilan : hemodilusi menyebabkan penurunan  kadar  hemoglobin.  Kadar  Hb normal selama kehamilan >110 g/L

Terapi :
Pencegahan : 100 mg Zat Besi dan Asam Folat 400 mcg/hari.
Bila asupan per oral dalam dosis besar tidak dapat dilaksanakan – alternatif: pemberian zat besi parenteral
Anemia Megaloblastik

n  Disebabkan karena defisiensi asam folat, jarang sekali karena defisiensi vitamin B12. Asam folat dibutuhkan dalam pembentukan asam nukleat dan defisiensi asam folat menyebabkan gangguan proliferasi sel –  ( antara lain prilferasi sel sumsum tulang ).
n  Pada anemia ini, terjadi hambatan sintesis DNA menyebabkan partum-buhan sel yang tidak seimbang. Namun ketika pembelahan sel terhambat, sintesis RNA tidak terpengaruh. Hasilnya adalah komponen sitoplasma terutama hemoglobin disintesis dalam jumlah berlebihan selama penundaan pembelahan sel. Akhirnya terjadi peningkatan dalam ukuran sel.
n  Defisiensi asam folat sering berdampingan dengan defisiensi besi dalam kehamilan.
n  Anemia megaloblastik dalam kehamilan umumnya mempunyai prognosis yang cukup baik. Pengobatan dengan asam folat hampir selalu berhasil. Apabila penderita mencapai masa nifas dengan selamat dengan atau tanpa pengobatan maka anemianya akan sembuh dan tidak akan timbul lagi. Hal ini disebabkan karena dengan lahirnya anak keperluan akan asam folik jauh berkurang. Anemia megaloblastik dalam kehamilan yang berat tidak diobati mempunyai prognosis kurang baik. Angka kematian bagi ibu mendekati 50% dan anak 90%.

Etiologi :
n   Diet yang buruk
n   Sakit berkepanjangan
n   Gangguan Traktus Gastrointestinal
n   Antibiotika oral
n   Defisiensi vitamin C
n   Penyakit hepar


Terapi :
Defisiensi asam folat diatasi dengan Pemberian 5 mg asam folat 3 dd 1 selama kehamilan



ANEMIA  HIPOPLASTIK/ APLASTIK :

Disebabkan karena sumsum tulang kurang mampu membuat sel-sel darah baru. 
Kegagalan sumsum tulang yang menyebabkan anemia jarang terjadi selama kehamilan. Pada kehamilan biasanya sembuh spontan dan diperkirakan merupakan reaksi imunologis yang terjadi selama kehamilan.
Biasanya anemia hipoplastik karena kehamilan apabila selamat mencapai masa nifas akan sembuh dengan sendirinya. Dalam kehamilan berikutnya biasanya wanita menderita anemia hipoplastik lagi. Pada kondisi yang berat jika tidak diobati mempunyai prognosis yang buruk bagi ibu maupun anak.


Penyebabnya :
n  kerusakan sumsum tulang,
n  defisiensi besi,  
n  stimulus eritropoetin yang inadekuat  (dapat disebabkan  karena gangguan  fungsi ginjal, atau penurunan kebutuhan O2 jaringan akibat penyakit metabolik seperti hipotiroid).
Gejala :
Pucat, lesu ,takikardia, ulkus, tenggorokan yang nyeri dan demam.

Terapi :
n  Hindari faktor – faktor penyebab
n  Prednisolone 10 – 20 mg qid
n  Tranfusi PRC-packed red cell dan trombosit (terminasi kehamilan)
n  Transplantasi sumsum tulang


ANEMIA  HEMOLITIK

Pada anemia ini terjadi penghancuran sel darah merah berlangsung lebih cepat dari pembuatannya. Wanita dengan anemia hemolitik sukar menjadi hamil, apabila hamil maka anemia menjadi lebih berat. Sebaliknya mungkin bahwa kehamilan menyebabkan krisis hemolitik pada wanita yang sebelumnya tidak menderita anemia.

Gejala:
Gejala proses hemolitik seperti anemia. Disamping itu terdapat tanda regenerasi darah sumsum tulang. Pada hemolisis yang berlangsung lama dijumpai pembesaran limpa dan pada kasus herediter kadang disertai kelainan radiologis pada tengkorak dan tulang lain.


“ SICKLE CELL” ANEMIA :

Sickle Cell Anemia  adalah kelainan genetik yang hampir selalu terjadi pada pasien kulit hitam. Ditandai dengan adanya kelainan molekul hemoglobin yang disebut hemoglobin S sehingga bentuk eritrosit seperti bulan sabit

Gambaran Klinik :

n  Ditandai dengan anemia hemolitik kronis dengan krisis berulang.
n  Sering menderita UTI – urinary tract infection
n  Sel eritrosit cenderung berubah bentuk saat terjadi hipoksia


Gejala dan Tanda Anemia kronis:

n  Eritrosit berubah bentuk seperti bulan sabit
n  Krisis perdarahan
n  Manisfestasi lain : Kepekaan terhadap infeksi bakteri meningkat
n  Pneumonia Bronchopneumonia
n  Infark paru, Kerusakan ginja,l Gangguan SSP, Gangguan Mata



AKIBAT ANEMIA PADA KEHAMILAN dan PERSALINAN :

v  Morbiditas meningkat akibat : abortus partus preterm
v  Mortalitas ibu meningkat akibat : perdarahan pasca persalinan dan anemia Komplikasi paru, Gagal jantung kongestif, Infeksi .



OBAT  ANTIANEMIA

Obat yang penting untuk  Eritropoesis  (faktor pertumbu-han sel darah merah) normal yaitu: zat besi (Fe), Vit B12, dan  asam  folat. Obat-obat ini digunakan untuk mengobati anemia dan dinamakan juga sebagai Hematinik.

BESI (fe)  dan GARAM-GARAMNYA
Zat besi merupakan mineral yg diperlukan oleh semua  sistem biologi di dalam tubuh. Besi merupakan unsur esensial utk:
sintesis hemoglobin,    sintesis katekolamin, produksi panas dan sebagai komponen enzim-enzim tertentu yg diperlukan untuk produksi adenosin trifosfat yg terlibat dalam respirasi sel.

Sekitar 70% zat besi yg ada dalam tubuh merupakan Fe fungsional atau esensial (66% dlm hemoglobin, 3% dlm mioglobin sisanya pada enzim tertentu dan transferin), dan 30% merupakan Fe yg nonesensial. Cadangan Fe pada wanita hanya 200-400 mg, sedangkan pada pria kira-kira 1 gram.

Defisiensi zat besi akan mengakibatkan anemia yang menurunkan jumlah maksimal oksigen yang dapat dibawa oleh darah. Tanpa diobati penyakit anemia dapat berlanjut kepada keadaan gagal jantung.

Farmakokinetik
Absorpsi:
Absorpsi  Fe melalui saluran cerna terutama berlangsung di duodenum dan jejunum proksimal. Transportnya melalui sel mukosa usus terjadi secara transfort aktif. Zat ini lebih mudah diabsorpsi dalam bentuk fero. Ion fero yg sudah diabsorpsi akan diubah menjadi ion feri dalam sel mukosa.. Selanjutnya ion feri akan masuk ke dalam plasma dengan perantara transferin, atau diubah menjadi feritin dan disimpan dalam sel mukosa usus. Bila cadangan rendah atau kebutuhan meningkat, maka Fe yang baru diserap akan segera diangkut dari sel mukosa ke sumsum tulang untuk eritropoesis.

Distribusi:
Setelah diabsorpsi, Fe dalam darah akan diikat oleh transferin untuk kemudian diangkut ke berbagai jaringan, terutama ke sumsum tulang dan depot Fe.

Metabolisme:
Bila tidak digunakan dalam eritropoesis, Fe mengikat suatu protein yang disebut apoferitin dan membentuk feritin. Fe disimpan terutama pada sel mukosa usus halus dan dalam sel-sel retikuloendotelial (di hati, limpa dan sumsum tulang)

Ekskresi:
Jumlah Fe yang diekskresi setiap hari sedikit sekali          (sekitar  0,5 -1 mg sehari). Ekskresi terutama berlangsung melalui sel epitel kulit dan saluran cerna yg terkelupas, keringat, urin, feses serta kuku dan rambut yg dipotong.

Kebutuhan Fe :
Laki-laki dewasa: 10 mg sehari
Wanita               :  12 mg sehari
Wanita hamil dan menyusui: tambahan asupan 5 mg sehari.
Bila kebutuhan ini tidak dipenuhi, Fe yang terdapat di dalam gudang akan digunakan dan gudang lambat laun menjadi kosong. Akibatnya timbul anemia defisiensi Fe.

Indikasi :
Sediaan Fe hanya diindikasikan untuk pencegahan dan pengobatan Anemia defisiensi Fe. Penggunaan diluar indikasi ini, cenderung menyebabkan penyakit penimbunan besi dan keracunan besi.

Efek samping:
v  Intoleransi terhadap sediaan oral,
      Gejalanya: mual dan nyeri lambung, konstipasi, diare dan  kolik.
      Gangguan ini dapat dikurangi dengan mengurangi dosis atau  dengan
      pemberian sesudah makan, walaupun dg cara ini  absorpsi dapat berkurang.
v  Pemberian scr IM dapat menyebabkan reaksi lokal pada tempat suntikan berupa rasa sakit, warna coklat pd tempat suntikan, peradangan lokal.
v  Pada pemberian IV, dapat terjadi reaksi sistemik. 
      Reaksi yg dapat terjadi dlm 10 menit setelah suntikan adalah: sakit kepala,  
      nyeri otot dan sendi, hemolisis, takikardi, flushing, berkeringat, mual, muntah,
      bronkospasme, hipotensi, pusing dan kolaps sirkulasi.
      Reaksi yg lebih sering timbul dalam ½ - 24 jam setelah suntikan: demam,
      menggigil, rash, urtikaria,nyeri dada,rasa sakit pada seluruh badan dan
      ensefalopatia, syok atau henti jantung.

Intoksikasi akut : dpt terjadi setelah menelan Fe sebanyak 1 g. pada sal cerna terjadi iritasi, korosi, sampai terjadi nekrosis.
Gejalanya: mual muntah, diare, hemetemesis serta feses berwarna hitam krn perdarahan pada sal. Cerna., syok dan akhirnya kolaps kardiovaskular dg bahaya kematian.

Terapi  intoksikasi akut adalah sbb.:
1. Diusahakan agar pasien muntah
2. Diberikan susu atau telur yang dapat mengikat Fe sbg kompleks protein  Fe.
3. Bila obat diminum kurang dari 1 jam sebelumnya, dapat  dilakukan bilasan
    lambung dg larutan nat bikarbonat 1%.
4. Bila lebih dari 1 jam bilasan lambung dpt menyebabkan perforasi.
5. Untuk mengatasi efek toksik sistemik maupun lokal  pemberian deferoksamin
    (kelator) spesifik untuk besi.


DOSIS

Preparat
Tablet
Elemen besi tiap tablet
Dosis lazim untuk Dewasa/hari
Fero sukfat
(hidrat)
325 mg
      65  mg
3 - 4
Fero glukonat
325  mg
      36  mg
3 - 4
Fero fumarat
200   mg
      66  mg
3 - 4
Fero fumarat
325  mg
106  mg
2 - 3


Sediaan Parenteral
Pemberian suntikan IM dan IV hanya dibenarkan bila pemberian oral tidak mungkin, misalnya pasien intoleran thd sediaan oral atau pemberian oral tidak menimbulkan respons terapeutik.
n    Iron-dextran (imferon)---- mengandung 50 mg Fe/ml   
                                            (larutan 5%)

Secara IM: Dosis : 250 mg Fe untuk setiap gr kekurangan Hb. Hari pertama disuntikkan 50 mg, dilanjutkan dg 100-250 mg setiap hari atau beberapa hari sekali. Penyuntikan dilakukan pada kuadran atas luar m. gluteus dan secara dalam untuk menghindari pewarnaan kulit.

Secara IV:  Dosis permulaan tdk boleh  melebihi 25 mg, diikuti dg peningkatan bertahan untuk 2-3 hari sampai tercapai dosis 100 mg/hari. Harus diberikan perlahan-lahan yaitu: 25-50 mg/menit.


VITAMIN  B12

Vit B12  (Sianokobalamin) merupakan satu-satunya kelompok senyawa alam yg mengandung unsur Co dengan struktur yg mirip derivat porfirin alam lain. Umumnya senyawa dalam kelompok ini dinamakan kobalamin.

Fungsi metabolik
Vit B12  bersama asam folat sangat penting untuk metabolisme intrasel. Keduanya dibutuhkan untuk sintesis DNA yang normal, sehingga defisiensi salah satu vitamin ini menimbulkan gangguan produksi dan maturasi eritrosit (anemia megaloblastik).  Defisiensi Vit B12  juga menyebabkan kelainan neurologik. Bila tidak cepat diobati dapat membuat pasien cacat seumur hidup.


Defisiensi Vit B12
Kekurangan vitamin B12   dapat disebabkan oleh:
n   kurangnya asupan
n   terganggunya absorpsi
n   terganggunya utilisasi
n   meningkatnya kebutuhan
n   destruksi yang berlebihan atau
n   ekskresi yang meningkat

Defisiensi kobalamin ditandai dengan gangguan hematopoesis, gangguan neurologi, kerusakan sel epitel terutama epitel sal cerna dan debilitas umum.
Defisiensi vitamin B12  dapat didiagnosa dengan mengukur kadar vit B12  dalam plasma.

Kebutuhan vitamin B12
Orang sehat: kira-kira 1 mg sehari

Sumber vit B12  alami:
Mikroorganisme/bakteri dalam kolon manusia (ini tdk berguna sebab absorpsi vit B12 terutama berlangsung dalam ileum), jadi sumber utk memenuhi kebutuhan manusia adalah : makanan hewani. Jeroan , kerang, kuning telur, susu kering bebas lemak dan makanan laut (ikan sardin, kepiting)



Farmakokinetik
Absorpsi
Diabsorpsi dg baik dan cepat stlh pemberian IM dan SK.
Kadar puncak dalam plasma 1 jam setelah suntikan IM.
Absorpsi per oral berlangsung lambat di ileum.Kadar puncak dicapai 8-12 jam setelah pemberian 3 mg.

Distribusi
Setelah diabsorpsi, hampir semua vit B dalam darah terikat dengan protein plasma. Selanjutnya akan diangkut ke berbagai jaringan, terutama hati. (50-90%). Kadar normal vit B12  dlm plasma adalah 200-900 pg/mL dg simpanan 1-10 mg dalam hepar.

Metabolisme dan ekskresi
Di dalam hati Sianokobalamin maupun hidroksokobalamin akan diubah menjadi koenzim B12 .
Ekskresi melalui saluran empedu: 3 -7  mg sehari harus direabsorpsi dg perantaraan FIC.
Ekskresi bersama urin hanya terjadi pada bentuk yg tidak terikat protein. Bila kapasitas ikatan protein dari hati, jaringan dan darah telah jenuh, vit B   bebas akan dikeluarkan bersama urin.
Vit  B  dapat menembus sawar uri dan masuk ke dalam sirkulasi bayi.

SEDIAAN :
Vit B12  tersedia dalam bentuk tablet untuk pemberian oral dan larutan untuk suntikan. Cara pemberian yg terbaik adalah  secara IM atau SK yang disuntikkan dalam.

DOSIS :
Anemia pernisiosa: 1 -10  mg  sehari yg diberikan selama 190 hari.
Terapi awal: dosis 100 mg sehari parenteral selama 5 – 10 hari.
Terapi penunjang: dosis pemeliharaan 100-200 mg sebulan sekali sampai diperoleh remisi yg lengkap (jumlah eritrosit dalam darah  +4,5 juta/mm3) dan morfologi hematologik berada dalam batas-batas normal.


ASAM  FOLAT

Asam folat (PmGA) terdiri atas bagian-bagian pteridin, asam paraaminobenzoat dan asam glutamat.
PmGA bersama-sama dengan konjugat yang mengandung lebih dari satu asam glutamat, membentuk suatu kelompok zat yang dikenal sebagai folat.

Fungsi Metabolik
PmGA merupakan prekursor inaktif dari beberapa koenzim yg berfungsi pada transfer unit karbon tunggal.

Kebutuhan Folat
Rata-rata 50 g sehari, dalam bentuk PmGA

DEFISIENSI FOLAT
Defisiensi folat sering merupakan komplikasi dari:
  1. gangguan di usus kecil
  2. alkoholisme yg menyebabkan asupan makanan buruk
  3. efek toksik alkohol pada sel hepar dan
  4. anemia hemolitik yg menyebabkan laju malih eritrosit tinggi.
  5. Obat-obat yang dapat menurunkan kadar folat dalam plasma:
Metotreksat, trimetoprim (yg dpt menhambat enzim dihidrofolat reduktase.
Fenitoin dan antikonvulsan lain, kontrasepsi oral (yg mengadakan
interaksi pada absorpsi dan penyimpanan folat)

Defisiensi folat terutama akan memperlihatkan gangguan pertumbuhan.

Gejala klinik :
Gejala defisiensi folat yang paling menonjol adalah:
n   Hematopoesis megaloblastik (menyerupai anemia defisiensi
            vitaminb B 12), glositis, diare dan penurunan BB.
n   Pd def asam folat tidak terdapat kerusakan mielin sehingga
            tidak Ada gangguan neurologik.,

Farmakokinetrik
Pada pemberian oral absorpsi folat baik sekali. Terutama di 1/3 bag varoksimal usus halus.
2/3 dari asam folat yg terdapat dlm plasma darah terikat pada protein yg tidak difiltrasi ginjal. Distribusinya merata ke semua jaringan dan terjadi penumpukkan dalam cairan cerebrospinal
Ekresi berlangsung melalui ginjal, sebagian besar dlm bentuk metabolit.

Indikasi
Penggunaan folat adalah pada pencegahan dan pengobatan defisiensi folat.
Kebutuhan asam folat meningkat pada wanita hamil, sekurang kurangnya 500 mg per hari.
Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan kuat antara individu antara defisiensi asam folat pada ibu dengan insiden defek neural tuibe, spt spina bifida dan anensefalus pada bayi yg dilahirkan.

Dosis
Tergantung dari beratnya anemia dan komplikasi yg ada.
Untuk diagnostik: 0,1 mg per oral selama 10 hari.


Terapi awal pada defisiensi folat tanpa komplikasi: 0,5-1 mg sehari secara oral selama 10 hari.
Terapi selanjutnya: 0,1-0,5 mg sehari
Untuk pasien anemia hemolitik: 1 atau 2 x 1 mg tiap hari.

SEDIAAN
Asam folat tersedia dlm bentuk tablet yg mengandung 0,4; 0,8  dan 1 mg asam pteroliglutamat dan dalam larutan injeksi asam folat 5 mg/mL. Juga terdapat dalam berbagai sediaan multivitamin.

OBAT LAIN:
Riboflavin, Piridoksin. Kobal,tembaga.


ERITROPOIETIN

Eritropoietin adalah suatu glikoprotein dengan berat molekul 34-39 DA,merupakan faktor pertumbuhan sel darah merah yg diproduksi  terutama oleh ginjal dalam sel peritubuler dan tubuli proksimalis.
FARMAKODINAMIK
Bila terjadi anemia maka eritropoietin diproduksi lebih banyak oleh ginjal, dan hal ini merupakan tanda bagi sumsum tulang untuk memproduksi sel darah bmerah lebih banyak.
Pada pasien normal: kadar eritropoietin serum kurang dari       20 IU/L.
Pada keadaan anemia berat: 100-500 IU/L atau lebih.

FARMAKOKINETIK
Setelah pemberian intravena masa paruh eritropoietin pada pasien gagal ginjal kronik sekitar 4-13 jam.


INDIKASI
Eritropoietin terutama diindikasikan untuk anemia pada pasien gagal ginjal kronik. Pemberian eritropoietin dapat meningkatkan kadar hematokrit dan hemoglobin, dan mengurangi/menghindarkan kebutuhan transfusi.
Dosisnya: 50-150 IU/kg secara IV atau subkutan 3 x seminggu.
Untuk pasien anemia akibat gangguan primer atau sekunder pada sumsum tulang kurang memberikan respon terhadap pemberian eritropoietin. Untuk pasien ibi dosisnya lebih tinggi, sekitar 150-300 IU/L 3 x seminggu.

EFEK SAMPING
Hipertensi bertambah berat, paling sering akibat peningkatan hematokrit yg terlalu cepat.